
“Tahukah dirimu akan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan?”
–QS. 25: 43-Bahwa
Iblis biangnya kerusakan memang fakta. Bahwa Iblis gembongnya kejahatan
memang nyata dan bahwa Iblis dedengkotnya kekafiran memang seperti itu
adanya. Tetapi, meski begitu, tak selamanya apa yang diusahakan Iblis
berjalan sesuai rencana.
Boleh jadi umat Muslim memang keteteran
menghalau Iblis dan bala tentaranya, tetapi Iblis pun tak kalah
kelimpungan menghadapi betapa kukuhnya pertahanan manusia dengan aqidah
yang menancap di sanubarinya. Kroni-kroni Iblis bukan tak bisa
kocar-kacir, Iblis sendiri pun bukan tak dapat dibuat ‘ngacir’. Ia akan
putus asa jika tidak juga berhasil membuat manusia menyembah dirinya.
Hanya saja, Iblis tak mudah kehabisan cara.
“Sungguh Iblis telah putus asa menggoda supaya dirinya disembah oleh
orang-orang shalat. Tetapi ia tetap berupaya keras menghasut (supaya
timbul permusuhan) di antara mereka.”
(HR. Muslim)
Hasutan Iblis bukan isapan jempol. Sejak api pada mercusuar Daulah
Islam padam di tahun 1924, benteng persatuan umat telah berhasil
dijebol. Iblis meringis, kolega-koleganya suka cita,
cecunguk-cecunguknya pesta pora.
Hingga…
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia
mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia). Di antara bala
tentara itu, yang terdekat kedudukannya di sisi Iblis ialah yang paling
besar fitnahnya di antara mereka. Lalu salah satu dari mereka datang dan
berkata, ‘Aku tidak akan tinggalkan orang ini sampai aku berhasil
memisahkan dari istrinya.’ Lalu Iblis memeluknya dan berujar, ‘bagus!’.”
(HR. Muslim)
Sejenak mari kembali me-review “argumentasi Iblis” di awal
pembicaraan kita sebelumnya. Masih ingat apa yang ‘pengacara Iblis’
katakan? Ia, berani berseloroh bahwa Iblis berhak menyandang makhluk
paling bertakwa. Bukan saja karena ‘alasan palsu’ yang telah dibuatnya
–sebagaimana yang telah saya paparkan-, tetapi juga klaim bahwa Iblis
all out for all the time beribadah kepada Allah Swt. sebelum
diciptakan-Nya Adam a.s.
Percaya?
Iblis itu pembual besar. Tukang tipu profesional. Apa yang telah
diceritakan tak seluruhnya benar, ada sepenggal informasi yang kerapkali
didistorsikan. Hal ini nanti yang akan kita bahas dalam kaitannya
dengan ciri watak dan mental Iblis.
Ibnu Katsir rahimahuLlāh menyebutnya dalam Qashasul Anbiyā’.
Dijelaskannya, “Iblis adalah dari bangsa jin yang pada mulanya tinggal
di suatu daerah di muka bumi yang bernama Al-Jazair. Di daerah itu ia
tinggal bersama bangsanya dalam jumlah yang banyak sekali. Kemudian,
karena mereka berbuat kerusakan di muka bumi, maka mereka diperangi oleh
para malaikat, dan sebagian dari mereka ditawan, di antaranya Iblis
ini. Setelah mendapat ampunan dari Allah dan sekaligus menyembah-Nya,
jadilah ia pemimpin malaikat yang berada di langit dan di bumi. Iblis
mulanya makhluk yang sangat dekat dengan Allah. Lalu ketika datang
perintah sujud kepada Adam, Iblis menolak perintah itu dan malah
menyombongkan diri karena merasa lebih mulia daripada Adam. Sejak itulah
dia menjadi syetan yang terkutuk.”
Benar, di satu kesempatan Iblis memang pernah begitu dekat, sangat
dekat dengan Allah Swt. namun, di kesempatan yang lain ia juga pernah
membuat huru-hara dan kerusakan yang membuat para malaikat menumpasnya,
sebelum kemudian bertaubat kepada-Nya, sampai akhirnya memutuskan kafir
untuk selama-lamanya. Itulah mengapa, ketika ‘pengacaranya’ menggerutu
bahwa manusia berkali-kali melakukan kesalahan dan Allah masih memberi
kesempatan mengampuni mereka, sedangkan Iblis hanya sekali melakukan
salah lalu selamanya tak diampuni-Nya, ini adalah dusta. Dusta!
Yang benar adalah Iblis pernah merasakan pengampunan Allah Swt.
sebagaimana manusia yang diampuni ketika menyatakan taubat kepada-Nya.
Namun mengapa Iblis kemudian tak diampuni? Itulah persoalannya. Ia
congkak, ia tamak, lalu berikrar untuk menyesatkan manusia
selama-lamanya. Pada akhirnya, ia yang dulunya menolak bersujud
(menghormat) kepada Adam a.s., kini justru ingin disembah (diibadahi)
oleh anak cucu Adam. Maka itu artinya ia telah bermaksud menandingi
Allah Swt. dengan menjadikan dirinya sebagai berhala bagi
makhluk-makhluk yang lainnya. Akibatnya, manusia pun “terkena imbas”
sama-sama tak diampuni dosanya jika mereka melakukan dosa kesyirikan
kepada Allah Swt..
Fair, bukan?
Nah, karena sudah banyak yang berhasil direkrut sebagai staf dan
karyawan-karyawannya, maka kiranya perlu untuk saya paparkan ciri watak
serta mental Iblis, sebagai wanti-wanti, untuk sedapat mungkin kita
jauhi.
Dr. Syamsuddin Arif merincinya menjadi tiga ciri untuk
mengidentifikasi cendekiawan yang bermental Iblis. Pertama, selalu
membangkang dan membantah
(Al-An’am: 121). Boleh jadi
meskipun ia paham, tetapi ogah menerima kebenaran. Mereka ngotot
bukanlah untuk mempertahankan kebenaran, tapi dalam rangka melakukan
serangkaian pembenaran. Intelektual semacam ini sudah banyak kita jumpai
di antara para cendekiawan dan generasi Muslim sendiri. Mereka menjadi
liar tanpa mau diatur dengan aturan Islam.
Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh,
congkak, arogan). Sasaran sifat ini selain sombong kepada sesamanya,
juga sombong dengan menolak kebenaran. Mereka, tak jarang menuduh
orang-orang yang berusaha menerapkan ajaran hidup sesuai Al-Qur’an dan
As-Sunnah sebagai dogmatis, tekstualis, logosentris, fundamentalis,
konservatif, ekstrimis, dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang
berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat
Al-Qur’an maupun Hadits, meragukan dan menolak kebenaran, justru
disanjung-sanjung sebagai intelektual kritis, reformis, dan sebagainya
meskipun terbukti zindiq, heretik, dan bermental Iblis. Mereka bermuka
dua, menggunakan standar ganda (Al-Baqarah: 14). Mereka menganggap orang
beriman bodoh, padahal mereka sendiri yang bodoh (sufahā’). Allah telah
mengecam dan mengancam mereka,
“Akan Aku palingkan mereka yang arogan di muka bumi tanpa kebenaran
itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap
saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan
kebenaran, mereka tidak akan mau menampuhnya. Namun jika melihat jalan
kesesatan, mereka justru menelusurinya…”
(Al-A’rāf : 146).
Ketiga, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbîs wa kitmān
al-haqq). Adalah kebiasaan mereka menggunting kebenaran dan kesesatan
dalam waktu yang bersamaan hingga sama-sama menjadi semacam puzzle. Lalu
dari potongan-potongan puzzle tersebut dirangkai kembali menjadi
susunan gambar yang tampak utuh. Dari sini tak jarang dibuatnya
terkecoh, sebab gambar tersebut sudah menjadi hasil dari gabungan antara
potongan-potongan kebenaran yang telah ditempel dan dipasangkan dengan
potongan kesesatan.
Inilah trik-trik yang banyak dipraktikkan oleh mereka dari kalangan
cendekiawan dan ilmuwan. Mereka telah mengelabui, tetapi menamakannya
sebagai pembaharuan, pencerahan, apatah lagi penyegaran.
Al-Qur’an sebetulnya sudah mensinyalir hal ini; ada di antaranya
manusia yang berprofesi sebagai corong, mereka menghujat Allah Swt.
tanpa ilmu dan mengikuti syetan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya,
sesiapa yang merangkulnya sebagai kawan, maka akan disesatkan dan
dibimbingnya ke neraka
(Al-Hajj : 3-4).
Demikian ciri watak dan mental Iblis yang perlu diwaspadai. Lantas,
apa sesungguhnya perbedaan antara Iblis dengan syetan? Satu hadits yang
diceritakan oleh Aisyah r.a., yaitu tatkala Rasulullah Saw. keluar
meninggalkan dirinya…,“Lalu saya keluar pula membuntuti beliau dari
belakang. Ketika beliau melihat apa yang saya lakukan, beliau pun
berkata, ‘Apa yang engkau lakukan, hai Aisyah. Apakah kamu cemburu?’
Saya menjawab, orang seperti saya kenapa tidak cemburu kepada Anda ya
Rasul? Beliau berkata, ‘Atau barangkali syetanmu telah mendatangimu?’.
Apakah saya disertai syaitan, ya Rasulullah?, tanyaku heran. ‘Ya’,
jawabnya. Apakah tiap-tiap manusia disertai syaitan?, tanyaku. ‘Ya’,
jawabnya. Anda juga disertai syaitan ya Rasulullah? Tanyaku lagi. Beliau
menjawab, ‘Ya, saya juga disertai syaitan. Tetapi Tuhanku telah
menolongku atasnya sehingga ia tunduk.’”
Dari keterangan di atas, beberapa ulama’ menafsirkan, “Iblis ialah
golongan syetan karena kedurhakaannya. Sedangkan syetan itu sendiri,
bukanlah Iblis, karena Iblis adalah kata untuk jin tertentu bernama
“Azazil”. Di samping itu setiap manusia disertai syetan, tetapi, tidak
setiap manusia disertai Iblis”. Sedangkan sebagian ulama’ mengatakan
bahwa, “Hadits di atas menunjukan bahwa adanya perbedaan antara kata
Iblis dan kata syetan.”
Tampak, Iblis adalah big bos-nya syetan dari golongan jin
(Al-Kahfi : 50), sedangkan syetan merupakan makhluk jahat dari golongan jin dan manusia
(An-Nās : 6).
Kawan, kuatkan kuda-kuda. Iblis bersama bala tentaranya –kavaleri
maupun infantry- mengintai kehidupan kita. Mereka senantiasa menyusupkan
watak, mental serta sifat mereka ke dalam diri setiap manusia:
membangkang (abā, QS 2: 34, 15: 31, 20: 116), menganggap dirinya hebat
(istakbara, QS 2: 34, 38: 73, 38: 75), dan melawan perintah Tuhan
(fasaqa ‘an amri rabbihi, QS 18: 50). Maka, tekuk dan bungkukkan wajah
kita, kemudian mulailah bertanya: sesungguhnya tipu daya syetan itu
lemah, tapi selemah apa kita hingga mudah terperdaya olehnya? []
Oleh : Ahsan Hakim (dakwahkampus.com)