DOWNLOADS

Kamis, 28 Februari 2013

Mahasiswa Berbicara Tentang Iblis

“Tahukah dirimu akan manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan?”
–QS. 25: 43-

Bahwa Iblis biangnya kerusakan memang fakta. Bahwa Iblis gembongnya kejahatan memang nyata dan bahwa Iblis dedengkotnya kekafiran memang seperti itu adanya. Tetapi, meski begitu, tak selamanya apa yang diusahakan Iblis berjalan sesuai rencana.
Boleh jadi umat Muslim memang keteteran menghalau Iblis dan bala tentaranya, tetapi Iblis pun tak kalah kelimpungan menghadapi betapa kukuhnya pertahanan manusia dengan aqidah yang menancap di sanubarinya. Kroni-kroni Iblis bukan tak bisa kocar-kacir, Iblis sendiri pun bukan tak dapat dibuat ‘ngacir’. Ia akan putus asa jika tidak juga berhasil membuat manusia menyembah dirinya. Hanya saja, Iblis tak mudah kehabisan cara.
“Sungguh Iblis telah putus asa menggoda supaya dirinya disembah oleh orang-orang shalat. Tetapi ia tetap berupaya keras menghasut (supaya timbul permusuhan) di antara mereka.” (HR. Muslim)
Hasutan Iblis bukan isapan jempol. Sejak api pada mercusuar Daulah Islam padam di tahun 1924, benteng persatuan umat telah berhasil dijebol. Iblis meringis, kolega-koleganya suka cita, cecunguk-cecunguknya pesta pora.
Hingga…
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengirim bala tentaranya (untuk menggoda manusia). Di antara bala tentara itu, yang terdekat kedudukannya di sisi Iblis ialah yang paling besar fitnahnya di antara mereka. Lalu salah satu dari mereka datang dan berkata, ‘Aku tidak akan tinggalkan orang ini sampai aku berhasil memisahkan dari istrinya.’ Lalu Iblis memeluknya dan berujar, ‘bagus!’.” (HR. Muslim)
Sejenak mari kembali me-review “argumentasi Iblis” di awal pembicaraan kita sebelumnya. Masih ingat apa yang ‘pengacara Iblis’ katakan? Ia, berani berseloroh bahwa Iblis berhak menyandang makhluk paling bertakwa. Bukan saja karena ‘alasan palsu’ yang telah dibuatnya –sebagaimana yang telah saya paparkan-, tetapi juga klaim bahwa Iblis all out for all the time beribadah kepada Allah Swt. sebelum diciptakan-Nya Adam a.s.
Percaya?
Iblis itu pembual besar. Tukang tipu profesional. Apa yang telah diceritakan tak seluruhnya benar, ada sepenggal informasi yang kerapkali didistorsikan. Hal ini nanti yang akan kita bahas dalam kaitannya dengan ciri watak dan mental Iblis.
Ibnu Katsir rahimahuLlāh menyebutnya dalam Qashasul Anbiyā’. Dijelaskannya, “Iblis adalah dari bangsa jin yang pada mulanya tinggal di suatu daerah di muka bumi yang bernama Al-Jazair. Di daerah itu ia tinggal bersama bangsanya dalam jumlah yang banyak sekali. Kemudian, karena mereka berbuat kerusakan di muka bumi, maka mereka diperangi oleh para malaikat, dan sebagian dari mereka ditawan, di antaranya Iblis ini. Setelah mendapat ampunan dari Allah dan sekaligus menyembah-Nya, jadilah ia pemimpin malaikat yang berada di langit dan di bumi. Iblis mulanya makhluk yang sangat dekat dengan Allah. Lalu ketika datang perintah sujud kepada Adam, Iblis menolak perintah itu dan malah menyombongkan diri karena merasa lebih mulia daripada Adam. Sejak itulah dia menjadi syetan yang terkutuk.”
Benar, di satu kesempatan Iblis memang pernah begitu dekat, sangat dekat dengan Allah Swt. namun, di kesempatan yang lain ia juga pernah membuat huru-hara dan kerusakan yang membuat para malaikat menumpasnya, sebelum kemudian bertaubat kepada-Nya, sampai akhirnya memutuskan kafir untuk selama-lamanya. Itulah mengapa, ketika ‘pengacaranya’ menggerutu bahwa manusia berkali-kali melakukan kesalahan dan Allah masih memberi kesempatan mengampuni mereka, sedangkan Iblis hanya sekali melakukan salah lalu selamanya tak diampuni-Nya, ini adalah dusta. Dusta!
Yang benar adalah Iblis pernah merasakan pengampunan Allah Swt. sebagaimana manusia yang diampuni ketika menyatakan taubat kepada-Nya. Namun mengapa Iblis kemudian tak diampuni? Itulah persoalannya. Ia congkak, ia tamak, lalu berikrar untuk menyesatkan manusia selama-lamanya. Pada akhirnya, ia yang dulunya menolak bersujud (menghormat) kepada Adam a.s., kini justru ingin disembah (diibadahi) oleh anak cucu Adam. Maka itu artinya ia telah bermaksud menandingi Allah Swt. dengan menjadikan dirinya sebagai berhala bagi makhluk-makhluk yang lainnya. Akibatnya, manusia pun “terkena imbas” sama-sama tak diampuni dosanya jika mereka melakukan dosa kesyirikan kepada Allah Swt..
Fair, bukan?
Nah, karena sudah banyak yang berhasil direkrut sebagai staf dan karyawan-karyawannya, maka kiranya perlu untuk saya paparkan ciri watak serta mental Iblis, sebagai wanti-wanti, untuk sedapat mungkin kita jauhi.
Dr. Syamsuddin Arif merincinya menjadi tiga ciri untuk mengidentifikasi cendekiawan yang bermental Iblis. Pertama, selalu membangkang dan membantah (Al-An’am: 121). Boleh jadi meskipun ia paham, tetapi ogah menerima kebenaran. Mereka ngotot bukanlah untuk mempertahankan kebenaran, tapi dalam rangka melakukan serangkaian pembenaran. Intelektual semacam ini sudah banyak kita jumpai di antara para cendekiawan dan generasi Muslim sendiri. Mereka menjadi liar tanpa mau diatur dengan aturan Islam.
Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Sasaran sifat ini selain sombong kepada sesamanya, juga sombong dengan menolak kebenaran. Mereka, tak jarang menuduh orang-orang yang berusaha menerapkan ajaran hidup sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai dogmatis, tekstualis, logosentris, fundamentalis, konservatif, ekstrimis, dan lain sebagainya. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat Al-Qur’an maupun Hadits, meragukan dan menolak kebenaran, justru disanjung-sanjung sebagai intelektual kritis, reformis, dan sebagainya meskipun terbukti zindiq, heretik, dan bermental Iblis. Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (Al-Baqarah: 14). Mereka menganggap orang beriman bodoh, padahal mereka sendiri yang bodoh (sufahā’). Allah telah mengecam dan mengancam mereka,
“Akan Aku palingkan mereka yang arogan di muka bumi tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menampuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya…” (Al-A’rāf : 146).
Ketiga, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbîs wa kitmān al-haqq). Adalah kebiasaan mereka menggunting kebenaran dan kesesatan dalam waktu yang bersamaan hingga sama-sama menjadi semacam puzzle. Lalu dari potongan-potongan puzzle tersebut dirangkai kembali menjadi susunan gambar yang tampak utuh. Dari sini tak jarang dibuatnya terkecoh, sebab gambar tersebut sudah menjadi hasil dari gabungan antara potongan-potongan kebenaran yang telah ditempel dan dipasangkan dengan potongan kesesatan.
Inilah trik-trik yang banyak dipraktikkan oleh mereka dari kalangan cendekiawan dan ilmuwan. Mereka telah mengelabui, tetapi menamakannya sebagai pembaharuan, pencerahan, apatah lagi penyegaran.
Al-Qur’an sebetulnya sudah mensinyalir hal ini; ada di antaranya manusia yang berprofesi sebagai corong, mereka menghujat Allah Swt. tanpa ilmu dan mengikuti syetan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, sesiapa yang merangkulnya sebagai kawan, maka akan disesatkan dan dibimbingnya ke neraka (Al-Hajj : 3-4).
Demikian ciri watak dan mental Iblis yang perlu diwaspadai. Lantas, apa sesungguhnya perbedaan antara Iblis dengan syetan? Satu hadits yang diceritakan oleh Aisyah r.a., yaitu tatkala Rasulullah Saw. keluar meninggalkan dirinya…,“Lalu saya keluar pula membuntuti beliau dari belakang. Ketika beliau melihat apa yang saya lakukan, beliau pun berkata, ‘Apa yang engkau lakukan, hai Aisyah. Apakah kamu cemburu?’ Saya menjawab, orang seperti saya kenapa tidak cemburu kepada Anda ya Rasul? Beliau berkata, ‘Atau barangkali syetanmu telah mendatangimu?’. Apakah saya disertai syaitan, ya Rasulullah?, tanyaku heran. ‘Ya’, jawabnya. Apakah tiap-tiap manusia disertai syaitan?, tanyaku. ‘Ya’, jawabnya. Anda juga disertai syaitan ya Rasulullah? Tanyaku lagi. Beliau menjawab, ‘Ya, saya juga disertai syaitan. Tetapi Tuhanku telah menolongku atasnya sehingga ia tunduk.’”
Dari keterangan di atas, beberapa ulama’ menafsirkan, “Iblis ialah golongan syetan karena kedurhakaannya. Sedangkan syetan itu sendiri, bukanlah Iblis, karena Iblis adalah kata untuk jin tertentu bernama “Azazil”. Di samping itu setiap manusia disertai syetan, tetapi, tidak setiap manusia disertai Iblis”. Sedangkan sebagian ulama’ mengatakan bahwa, “Hadits di atas menunjukan bahwa adanya perbedaan antara kata Iblis dan kata syetan.”
Tampak, Iblis adalah big bos-nya syetan dari golongan jin (Al-Kahfi : 50), sedangkan syetan merupakan makhluk jahat dari golongan jin dan manusia (An-Nās : 6).
Kawan, kuatkan kuda-kuda. Iblis bersama bala tentaranya –kavaleri maupun infantry- mengintai kehidupan kita. Mereka senantiasa menyusupkan watak, mental serta sifat mereka ke dalam diri setiap manusia: membangkang (abā, QS 2: 34, 15: 31, 20: 116), menganggap dirinya hebat (istakbara, QS 2: 34, 38: 73, 38: 75), dan melawan perintah Tuhan (fasaqa ‘an amri rabbihi, QS 18: 50). Maka, tekuk dan bungkukkan wajah kita, kemudian mulailah bertanya: sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah, tapi selemah apa kita hingga mudah terperdaya olehnya? []
Oleh : Ahsan Hakim (dakwahkampus.com)
Judul: Mahasiswa Berbicara Tentang Iblis; Ditulis oleh solekhul hadi; Rating Blog: 5 dari 5

0 komentar:

Poskan Komentar